Biasanya sore ini aku lihat Jos berjalan didepan tempat aku nongkrong menyeduh kopi di warung Mbok Juminem. Tetapi sore ini aku tidak melihat batang hidungnya, dan juga rumahnya yang disebelah warung Mbok Juminem yang terkunci rapat-rapat seperti ditinggal penghuninya keluar. Jos adalah anak berusia 13 tahun yang tinggal bersama neneknya yang sudah tua renta. kehidupan sehari-hari Jos berjualan asongan dipinggiran jalan raya lampu merah yg tak jauh dari rumah tempat dia tinggal.
Read more >>
Teriakan Bisu (Bag I)
Fajar pagi dari ufuk timur belum menampakkan sinarnya, tetapi pagi itu tubuh renta Mbok Sukinem sudah terjaga mengambil seonggok kayu bakar untuk memasak makanan pagi ini. Kayu yang di ambil dari hutan dan dikumpulkan di belakang pawon (jawa; dapur) di tata rapi untuk di bakar di batu perapian. Mbok Sukinem tidak ingin pergi terlambat lebih dari jam 7 pagi untuk bekerja di perkebunan coklat milik PTPN. Tak ada yang mewah di dapur Mbok Sukinem, gerabah kwali beserta koloninya yang menjadi penghias dapur Mbok Sukinem. Bukan Mbok Sukinem tidak mengenal kompor gas beserta tabung LPG. Tetapi karena Mbok Sukinem tidak mampu untuk membeli program pemerintah itu. Bagi Mbok Sukinem program pemerintah itu sama saja monopoli negara untuk merauk keuntungan dari rakyatnya. Dalam pandangan konservatifnya dia ingin menjaga nilai etnis dan tradisi dikampungnya dengan menggunakan kayu bakar untuk memasak, terlebih Mbok Sukinem memang tidak mampu untuk membelinya. Penghasilan 10 ribu rupiah per hari yang ia dapat selama bekerja di kebun coklat milik PTPN tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Label:
Sastra
Langganan:
Komentar (Atom)