Realisme Literatur: Indonesia Lupa (Bagian 1)

Indonesia Lupa (Bagian 1)

Biasanya sore ini aku lihat Jos berjalan didepan tempat aku nongkrong menyeduh kopi di warung Mbok Juminem. Tetapi sore ini aku tidak melihat batang hidungnya, dan juga rumahnya yang disebelah warung Mbok Juminem yang terkunci rapat-rapat seperti ditinggal penghuninya keluar. Jos adalah anak berusia 13 tahun yang tinggal bersama neneknya yang sudah tua renta. kehidupan sehari-hari Jos berjualan asongan dipinggiran jalan raya lampu merah yg tak jauh dari rumah tempat dia tinggal.


"Mbok, sore ini aku tak lihat Jos pulang kerumah. kemana dia?."
"Lho, kamu tidak tahu ya mas, kalau nenek Jos kemarin malam meninggal dunia. penyakit Asma neneknya Jos kambuh dan seketika itu nyawa nenek Jos tak bisa diselamatkan." kata Mbok Juminem.

saat itu juga aku merasa iba dan ingin tahu dimana keberadaan Jos saat ini. seolah-olah kejadian kematian nenek Jos tidak ada tersiar kabar hening dan berlalu. berbeda dengan kematian-kematian para pejabat atau artis-artis yang seolah-olah kita dibuat iba dan prihatin atas kejadian tersebut. yaa, nenek Jos memang bukan seorang yang dikenal, dia seorang perempuan tua renta yang ditemani seorang cucu laki-lakinya yang setiap hari mencari nafkah untuk hidup mereka. kematian bagi seorang yang miskin hanyalah kematian yang tak mempunyai nilai keberadaan orang tersebut. masih untung nenek Jos dimakamkan oleh warga setempat dan diambilkan uang kas warga untuk membeli kain kafan dan sepetak tanah buat makam nenek Jos.

"Lalu Jos kemana Mbok sekarang?."
"Dia sekarang ikut Simbolon, pimpinan anak-anak jalanan itu lho." kata Mbok Juminem.
saya langsung bergegas dan pergi meninggalkan warung tersebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar